Sabtu, 19 Juli 2014

Saripati Perawat yg Kerap terlupakan

Saripati Perawat yang kerap Terlupakan
Posted by Didi Keitha
Saat kita berbicara tentang keperawatan, kita kerap dihadapkan kepada dua mazhab timur dan barat. Satu berpandukan kepada sejarah Islam, lainnya berpedoman kepada sejarah peperangan di Eropa.

Kedua mazhab sejarah tersebut sama-sama diimani. Ada yang keukeuh pada sejarah keperawatan Islam, adapula yang ngotot pada sejarah keperawatan modern di Eropa. Terserah generasi keperawatan baru akan meneladani yang mana, salah satu diantaranya atau keduanya dijadikan sebagai sosok pionir dunia keperawatan.

Dunia Islam mengenal sosok perawat terawal pada diri Rufaidah Binti Sa’ad atau Rufaidah al-Asalmiya. Beliau adalah tokoh keperawatan yang tersohor dalam khazanah para pegiat keperawatan Islam. Nama lengkap beliau adalah Rufaidah Binti Sa’ad Al-Bani Aslam Al-Khazraj. Ia lahir di Yatshrib, Madinah pada tahun 570 M dan wafat pada tahun 632 M.

Rufaidah merupakan golongan yang pertama memeluk Islam di Madinah atau dikenal juga sebagai Kaum Anshor. Pada saat perang Badar, Uhud, Khandaq dan perang Khaibar Rufaidah menjadi sukarelawan yang merawat korban perang yang terluka. Beliau mendirikan rumah sakit lapangan yang menjalankan perintah dari Rasulullah SAW bagi merawat para korban perang. Sayangnya, kiprah Rufaidah dalam mempelopori keperawatan di dunia Islam tidak tercatat secara detail sehingga akhirnya hilang tiada berbekas.

Sementara itu di Florence, Italia pada tanggal 12 Mei 1820 lahirlah Florence Nightingale. Beliau wafat pada tanggal 13 Agustus 1910 di rumahnya di London. Selama hidupnya, Florence membaktikan hidupnya untuk menolong korban perang di Krimea yang terletak di Eropa Timur. Atas jasanya beliau dianugerahi Nightingale Jewel dan uang sejumlah $250,000 dari kerajaan Inggris. Uang tersebut kemudian dihibahkan bagi pendirian rumah sakit dan lembaga pendidikan pertama keperawatan di Inggris.

Saripati Perawat yang kerap Terlupakan

Ada yang terlupakan disaat kita membahas tokoh pendiri keperawatan diatas. Latar belakang kehidupan mereka. Rufaidah maupun Florence tidak dilahirkan dalam keadaan susah. Kehidupan mereka serba berkecukupan.

Rufaidah kita kenal sebagai seorang anak dari tabib (dokter) yang terkenal di zaman Rasulullah SAW. Tentu saja, sebagai anak keturunan dokter, kehidupan keseharian Rufaidah tentu jauh dari kemiskinan dan kelaparan.

Begitu juga Florence, beliau adalah anak seorang tuan tanah yang memiliki bisnis properti yang amat maju pada zamannya. Kehidupan Florence pun pastinya serba berkecukupan. Ayahnya pun dijamin akan mampu memberikan pendidikan yang terbaik bagi kedua orang putrinya tersebut.

Lalu, kenapa justru mereka memilih profesi perawat yang jelas-jelas – sejak dulu sehingga sekarang – dipandang sebagai profesi strata kedua? Fakta inilah yang kerap terlupakan. Padahal disinilah saripati yang perlu ditonjolkan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam profesi keperawatan ini. Kekuatan orang-orang dibalik profesi keperawatan yang belum teridentifikasi.

Ternyata, bila kita perhatikan dengan seksama, setiap orang yang terjun bebas dan berkubang lumpur dalam dunia keperawatan memiliki satu ciri yang sama, yaitu gemar menolong orang lain. Merasa sedih apabila melihat orang lain menderita dan merasa terpanggil apabila ada orang lain yang memerlukan uluran tangan kita.

Ciri yang dimaksud adalah empati. Setiap perawat memiliki sifat tersebut. Baik perawat yang berlatarbelakang kaya raya maupun dari keluarga sederhana, memiliki sifat empati.

Bahkan, perawat yang tampak judes dan kerap kita jumpai di beberapa rumah sakit, pada dasarnya memiliki perasaan yang sangat lembut. Mereka siap menolong siapapun. Hanya saja atas alasan beban kerja dan salary yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka geluti sering memicu timbulnya ekspresi tidak mengenakkan tersebut.

Akhirnya, bagi setiap orang yang menekuni dunia keperawatan, seharusnya selau bersyukur karena para perawat-lah yang terpilih dari sekian milyar manusia di muka bumi saat ini yang bersedia untuk menyandang profesi ini. Sebuah profesi yang senantiasa bekerja tanpa lelah, selalu ikhlas demi sejahteranya orang lain. Tidakkah Anda bangga?

Sumber tulisan: www.biography.com, eng.wikipedia.org dan www.bbc.co.uk. photo credit: trialx.com

Kamis, 10 Juli 2014

30 Fadhilah Sholat Tarawih

Menyambung pembahasan mengenai tarawih yang sering disepelakan karena hukumnya yang sunnah, sungguh hal itu sangat-sangat keliru. Karena dalam kitab Durratun Nasihin disebutkan berbagai fadhilahnya sebagaimana yang diceritakan oleh baginda Ali karramallhu wajhah dalam sebuah hadits.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra. bahwasannya Rasulullah saw pernah ditanya seseorang mengenai fadhilah shalat tarawih di bulan Ramadhan, maka beliau berkata “(fadhilah tarawih) di malam;

1 : membebaskan seorang mu’min dari dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan ibunya.

2 : diampunkan dosa kedua ibu-bapaknya, jika kedunya beriman.

3 : berseru malaikat dari bawah ‘arasy “mulailah beramal, Allah telah menghapus dosa-dosa yang terhadulu”.

4 : baginya pahala seperti membaca semua kitab Allah (taurat, injil, zabur dan alqur’an)

5 : Allah berikan padanya pahala shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjidil aqsha.

6 : Allah berikan padanya pahala orang yang thawaf di baitul ma’mur seraya memohonkan ampun untuknya segala batu dan lumpur.

7 : seolah baginya hidup di zaman nabi Musa dan turut berperang melawan Fir’aun dan Hamman.

8 : Allah berikan kepadanya apa-apa yang diberikan kepada nabi Ibrahim as.

9 : seolah-olah ia menyembah Allah swt seperti kelasnya ibadah Rasulullah saw.

10 : Allah berikan rizqi kepadanya berupa kebaikan dunia dan akhirat.

11 : akan keluar dari dunia (mati) seperti hari ketika dilahirkan ibunya.

12 : wajahnya seperti bulan tanggal empat belas di hari kiyamat nanti.

13 : aman dai segala keburukan di hari kiyamat nanti

14 : dibebaskan dari pemeriksaan di hari kiyamat atas dasar persaksian malaikat atas shalat tarawihnya.

15 : memintakan ampun untuknya semua malaikat pemikul ‘arasy dan kursi.

16 : Allah swt menuliskan untuknya keselamatan dari neraka, dan kebebasan memasuki surga.

17 : diberikan kepadanya pahala Nabi-Nabi.

18 : berserulah seorang malaikat “wahai hamba, Allah telah ridha kepadamu dan kedua orang tuamu”

19 : Allah swt mengangkat derajatnya di surga firdaus.

20 : diberikan kepadanya pahala orang-orang yang mati syahid dan para shalihin.

21 : Allah swt buatkan rumah di surga dari cahaya.

22 : terbebaskan dari duka-cita ketika di hari kiyamat nanti.

23 : Allah swt buatkan kota di dalam surga

24 : ada 24 doa yang mustajabah baginya.

25 : Allah swt bebaskan darinya siksa kubur.

26 : Allah swt angkatkan dosanya selama empat puluh tahun.

27 : melewati shirath di hari kiyamat nanti secepat kilat.

28 : Allah swt angkatkan baginya seribu derajat di dalam surga.

29 : Allah swt berikan padanya pahala seribu haji yang diterima.

30 : Allah swt berkata padanya “Wahai hambaku makanlah oleh buah-buahan surga, dan mandilah dari air (surga) salsabila, dan minumlah dari air telaga (surga) al-Kautsar, Aku tuhanmu dan Engkau adalah hambaku.

Demikianlah sesungguhnya fadhilah yang tersimpan dalam setiap shalat tarawih. Perbedaan fadhilah pada masing-masing malam ini menunjukkan betapa tarawih adalah suatu momentum yang tidak mungkin berulang kembali. Siapa melewatkan satu malam, berarti telah kehilangan satu fadhilah. Dan itu akan di dapatnya kembali pada tahub berikutnya, kalaupun dia masih hidup. Maka hendaklah ini dihayati dengan seksama.

Jumat, 04 Juli 2014

Nabi Sulaiman, semut dan rezeki cacing buta

http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,52905-lang,id-c,hikmah-t,Nabi%20Sulaiman%20%20Semut%20%20dan%20Rezeki%20Cacing%20Buta-.phpx?utm_source=twitterfeed