Rabu, 14 Mei 2014

BELAJAR ZUHUD (KISAH SANTRI DAN GELAS BERISI AIR)

Suatu saat di sebuah pesantren salaf yang mengkaji kitab-kitab salafiyah, kyai menerangkan tentang pentingnya Zuhud ( Hati yang tidak selalu terikat dengan harta ) dengan zuhud akan membawa kita pada suatu kemuliaan sedangkan terlalu mengejar harta duniawi akan membawa kita menjadi budak harta kita sendiri.    

Diantara para pendengar ceramah kyai terdapat santri yag sangat taat terhadap kyainya berkata dengan nada lirih “Kalau yang diterangkan kyai kita mesti zuhud kenapa kyai sendiri kaya raya ya..?”. Meskipun lirih celetukan santri tersebut, sang kyai ternyata mendengarnya. Untuk menjelaskan hal tersebut sang kyai tidak langsung mengingatkan langsung ke santri tersebut.

Suatu saat santri tersebut dipanggil “santriku aku mau mengajakmu ke tempat pesantren putri di kota sambil jalan-jalan melihat keindahan kota kita yang ramai dan terkenal dengan taman-taman indahnya.” Kata kyai.
“Apakah kamu mau..?” Tanya sang kyai.
“Mau.. mau kyai…” jawab santri.
“Kalau kamu mau, segeralah bersiap-siap.”
“Baik Kyai..” jawab santri.
“Santriku aku memberimu titipan dan amanah menjaga air di gelas ini agar jangan sampai tumpah selama perjalanan, kamu sanggup santriku..?
“Sanggup kyai.” Jawab santri.

Setelah mobil mewah kyai datang, mereka berdua naik mobil berkeliling kota.

Sesekali pak sopir mengerem dan belok ke kanan atau ke kiri. Si santri terus menjaga air dalam gelas tadi dengan serius. Setelah sampai di tempat tujuan mereka langsung turun dan menuju ke ruangan pak kyai di pesantren putri.

Pak kyai kemudian tanya ke santri mengenai keindahan kota dan taman-tamanya serta santriwati yang tadinya sempat berpapasan dengan mereka.
“Santriku… apa yang engkau lihat nak, selama perjalanan…?
Apakah tadi engkau melihat taman-taman indah, bunga-bungaan di jalanan atau para santriwati…?”
“Tidak kyai…saya hanya melihat sekilas dan lupa telah melihat apa saja..” jawab santri.
“Kenapa engkau lupa dan tidak melihat taman-taman kota yang indah, disana ada bunga-bungaan dan ramai sekali tadi di aula depan banyak santriwati..?”
“Saya berkonsentrasi terhadap amanah kyai untuk menjaga agar air dalam gelas ini tidak tumpah.”
Sang kyai tersenyum kemudian berkata.
“Seperti itulah seharusnya menjaga titipan atau amanah Allah SWT atas agama kita. Sampai kita melewati keindahan-keindahan di duniawi hanyalah sekilas saja. Tidak membekas di hati kita.”

Zuhud bukan berarti kita tidak boleh kaya, tetapi zuhud adalah menghindari hati kita selalu terikat dengan harta, sehingga harta kita justru membuat kita lupa akan beribadah kepada Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar